تقسيم الإستعارة إلي أصلية و تبعية
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah: Balaghah 2
Dosen:
Disusun
oleh:
Tarbiyah
/ PBA B / V
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah Swt Rabb
semesta alam. Sebab hanya berkat rahmat dan hidayah-Nya, kita masih bisa
melaksanakan perintah-perintah-Nya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
limpahkan kepada Baginda Rasulullah Saw suri tauladan terbaik sepanjang masa.
Dan juga kepada para sahabat, keluarga serta kepada para pengikut ajaran
beliau.
Dengan
segenap kemampuan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan, dan dengan
kerendahan hati pula kami sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami mohon saran dan kritiknya demi perbaikan makalah selanjutnya.
Terlepas dari
segala kekurangan yang kami miliki, kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
Balaghah
merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan
ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar diantara
macam-macam uslub (ungkapan). Mengkaji balaghah merupakan salah satu
faktor penting untuk membentuk tabiat
kesastraan, memiliki cita rasa seni yang tinggi khususnya seni yang ada pada
ayat-ayat alqur’an dan sastra arab pada umumnya.
Untuk
mencapai tujuan ini seseorang harus sering membaca karya-karya sastra ,
memenuhi dirinya dengan pengetahuan tentang unsur-unsur sastra, menganalisis
dan membandingkan karya sastra serta mengetahui kaidah- kaidah balaghah, unsur-
unsur dan juga macam- macam istilah
tentang ilmu balaghah yang didalamnya termuat ilmu bayan, ilmu ma’ani dan ilmu
badi’.
Sekarang
dalam bahasan kali ini akan mengkaji tentang macam- macam isti’arah ditinjau
dari beberapa sudut, khususnya kali ini tentang pembagian isti’arah ditinjau
dari segi lafazh musta’ar-nya. Terbagi menjadi berapakah majaz isti’arah ditinjau dari sudut
lafazh-nya, serta apa yang dimaksud dengan isti’arah ashliyyah dan isti’arah taba’iyyah.
Disini akan dibahas sedikit tentang pertanyaan- pertanyaan tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
وتبعية أصلية إلي الإستعارة تقسيم
Telah
dibahas pada bab-bab yang telah lalu bahwa majaz isti’arah adalah majaz yang
‘alaqohnya (hubungan) antara makna asal dan makna yang dimaksud adalah musyabahah
(keserupaan).
Majaz isti’arah terbagi menjadi beberapa macam, apabila ditinjau dari
segi musta’ar lah dan musta’ar minhu-nya, majaz ini terbagi menjadi majaz isti’arah tashrihiyyah (mushorrohah) dan majaz isti’arah makniyyah. Apabila ditinjau dari segi
bentuk lafazh-nya majaz isti’arah terbagi menjadi dua yaitu majaz isti’arah Ashliyyah dan majaz isti’arah Taba’iyyah. Dan
apabila ditinjau dari kata yang mengikutinya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu isti’arah murasysyahah, isti’arah muthlaqoh
dan isti’arah mujarradah.
Dan sekarang pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah majaz isti’arah
ditinjau dari segi lafazh-nya.
A. Isti’arah Ashliyyah
اسما غير مشتق فيها المستعار كان ما
“Isti’arah Ashliyyah adalah jenis majaz yang lafazh musta’ar-nya isim jamid bukan musytaq (bukan isim sifat).”
Contoh:
حديقة لساني
من حملت إاليه
“Aku
bawa kepadanya sebuah taman dari lidahku”.
Yang
dimaksud taman disini adalah sya’ir yang indah laksana taman. Kata hadiqoh itu adalah isim jamid (bukan kata sifat), sehingga dinamakan isti’arah ashliyyah.
Contoh
lainnya seperti perkataan al-Mutanabbi tentang Saifud- Daulah berikut ini:
والفراقد السها
فيك لامني وإن* وبدره
الزمان شمس
يا أحبّك
“Aku
cinta kamu, wahai matahari dan bulan zaman ini, sekalipun bintang-bintang yang
samar dan yang jauh mencaci-makiku
karena menyukaimu”.
Pada
syi’ir diatas, Saifud- Daulah diserupakan dengan “شمس” atau matahari dan
“بدر” atau bulan, karena sama-sama berkedudukan tinggi dan jelas.
Sedangkan orang-orang yang dibawahnya disamakan dengan bintang karena jauh dan
sama-sama jauh. Kata “شمس” dan “بدر” keduanya termasuk
isim jamid (bukan isim sifat). Penggunaan isim jamid dalam sebuah
ungkapan majaz dinamakan majaz isti’arah ashliyyah.
B. Isti’arah Taba’iyyah
أوحرفا مشتقا اسما أو فعلا
فيهاالمستعار كان ما
“Isti’arah
taba’iyyah yaitu majaz yang musta’ar-nya fi’il, isim
musytaq, atau huruf”.
i.
Contoh
taba’iyyah dengan fi’il
الدّهر عضّنا
“Zaman telah menggigitku dengan
taringnya”.
Arti
“عضّ” yang mempunyai makna asal yaitu ‘menggigit’, sedang yang
dimaksud adalah ‘menyakiti’. Ungkapan ini namanya isti’arah taba’iyyah
karena musta’ar-nya berbentuk fi’il.
ii.
Contoh
taba’iyyah dengan isim musytaq
بأحزني ناطقة حالي
“Keadaanku mengucapkan kesedihanku”.
Yang
dimaksud ‘mengucapakan’ ialah menunjukkan. Disebut isti’arah taba’iyyah karena
ada pada isim musytaq.
iii.
Contoh
taba’iyyah dengan huruf
النّخل جذوع في لأصلّبنّكم
“Sungguh aku akan menyalibmu didalam cabang pohon kurma”.
Makna
dari kata “في” adalah diatas. Isti’arah ini dinamakan taba’iyyah
karena lafazh yang menjadi majaz-nya adalah adanya huruf/ harf.
BAB
III
KESIMPULAN
Majaz Isti’arah
ditinjau dari segi lafazh yang menjadi musta’ar-nya
terbagi menjadi dua yaitu isti’arah ashliyyah dan isti’arah taba’iyyah. Isti’arah ashliyyah yaitu jenis majaz
yang lafazh musta’ar-nya berupa isim jamid
bukan isim musytaq (bukan isim sifat), sedangkan isti’arah taba’iyyah
yaitu majaz yang musta’ar-nya berupa fi’il,
isim musytaq, atau huruf.
Daftar
Pustaka
Zaenuddin, Mamat & Nurbayan,
yayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah.
Bandung: Relika Aditama
Al-Jarim, Ali & Usman, Musthafa.
2006. Terjemahan Balaghatul Wadhihah.
Bandung: Sinar Baru Algensindo
Muhsin, Wahab & Wahab, T. Fuad.
1986. Pokok- pokok Ilmu Balaghah.
Bandung: