Sabtu, 08 Maret 2014

My Village

Kampungku indah nan segar di mana ?

Selasa, 15 Oktober 2013

Kerak dan Embun



Rasakan desah angin menyibak senyummu
Mendesah berhembus nafas berlapis kabut
Meski tirai masih melapiskan kerak sekasar kulit bara
Sejatinya kelembutan embun yang menggumpal itu bertajuk kesejukan abadi

Makalah Manajemen Pendidikan Luar Sekolah


MAKALAH

MADRASAH DINIYAH SEBAGAI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata  Kuliah:  MPBA-LS
Dosen Pembimbing: Durtam Sayidi, S. Ag




 






Disusun Oleh :
Moh. Nurcholid Mawardi (58420471)

Tarbiyah/ PBA B/ VII
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang Maha Ghafur yang telah memberikan Rahmatnya kepada kita semua. Shalawat dan salam selamanya tercurah limpahkan kepada baginda alam yakni nabi Muhammad SAW.
Dalam kesempatan ini kami Penulis akan mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyusun makalah ini terutama kepada bapak Durtam Sayidi, S. Ag  dosen pengampu mata kuliah “MPBA-LS”. Dan juga kepada teman-teman PBA semester  VII  yang telah memberikan suport kepada kami .
Kami mohon maaf apabila penyusunan makalah ini jauh dari kata “ SEMPURNA” , dan kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan para pengajar.




Cirebon , Januari 2012


                                  Penulis,






Makalah Balaghah 2



تقسيم الإستعارة إلي أصلية و تبعية
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah: Balaghah 2
Dosen:



 








Disusun oleh:


Tarbiyah / PBA B / V
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt  Rabb semesta alam. Sebab hanya berkat rahmat dan hidayah-Nya, kita masih bisa melaksanakan perintah-perintah-Nya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Baginda Rasulullah Saw suri tauladan terbaik sepanjang masa. Dan juga kepada para sahabat, keluarga serta kepada para pengikut ajaran beliau.

Dengan segenap kemampuan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan, dan dengan kerendahan hati pula kami sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritiknya demi perbaikan makalah selanjutnya.

Terlepas dari segala kekurangan yang kami miliki, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.


                                                  


                                                                                                     Penyusun,








BAB I
PENDAHULUAN


Balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar diantara macam-macam uslub (ungkapan). Mengkaji balaghah merupakan salah satu faktor  penting untuk membentuk tabiat kesastraan, memiliki cita rasa seni yang tinggi khususnya seni yang ada pada ayat-ayat alqur’an dan sastra arab pada umumnya.

Untuk mencapai tujuan ini seseorang harus sering membaca karya-karya sastra , memenuhi dirinya dengan pengetahuan tentang unsur-unsur sastra, menganalisis dan membandingkan karya sastra serta mengetahui kaidah- kaidah balaghah, unsur- unsur  dan juga macam- macam istilah tentang ilmu balaghah yang didalamnya termuat ilmu bayan, ilmu ma’ani dan ilmu badi’.

Sekarang dalam bahasan kali ini akan mengkaji tentang macam- macam isti’arah ditinjau dari beberapa sudut, khususnya kali ini tentang pembagian isti’arah ditinjau dari segi lafazh musta’ar-nya. Terbagi menjadi berapakah  majaz isti’arah ditinjau dari sudut lafazh-nya, serta apa yang dimaksud dengan isti’arah ashliyyah dan isti’arah taba’iyyah. Disini akan dibahas sedikit tentang pertanyaan- pertanyaan tersebut.








BAB II
PEMBAHASAN
وتبعية أصلية إلي الإستعارة تقسيم
Telah dibahas pada bab-bab yang telah lalu bahwa majaz isti’arah adalah majaz yang ‘alaqohnya (hubungan) antara makna asal dan makna yang dimaksud adalah musyabahah (keserupaan)[1]. Majaz isti’arah terbagi menjadi beberapa macam, apabila ditinjau dari segi musta’ar lah dan musta’ar minhu-nya, majaz ini terbagi menjadi majaz isti’arah tashrihiyyah (mushorrohah) dan majaz isti’arah makniyyah. Apabila ditinjau dari segi bentuk lafazh-nya majaz isti’arah terbagi menjadi dua yaitu majaz isti’arah Ashliyyah dan majaz isti’arah Taba’iyyah. Dan apabila ditinjau dari kata yang mengikutinya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu isti’arah murasysyahah, isti’arah muthlaqoh dan isti’arah mujarradah. Dan sekarang pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah majaz isti’arah ditinjau dari segi lafazh-nya.
A.     Isti’arah Ashliyyah
اسما غير مشتق فيها المستعار كان ما
Isti’arah Ashliyyah adalah jenis majaz yang lafazh musta’ar-nya isim jamid bukan musytaq (bukan isim sifat).”[2]
Contoh:
حديقة لساني من  حملت إاليه
“Aku bawa kepadanya sebuah taman dari lidahku”.
Yang dimaksud taman disini adalah sya’ir yang indah laksana taman. Kata hadiqoh itu adalah isim jamid (bukan kata sifat), sehingga dinamakan isti’arah ashliyyah.
Contoh lainnya seperti perkataan al-Mutanabbi tentang Saifud- Daulah berikut ini:
والفراقد السها فيك لامني وإن*    وبدره  الزمان شمس يا أحبّك

“Aku cinta kamu, wahai matahari dan bulan zaman ini, sekalipun bintang-bintang yang samar dan yang jauh  mencaci-makiku karena menyukaimu”.[3]
Pada syi’ir diatas, Saifud- Daulah diserupakan dengan “شمس” atau matahari dan “بدر” atau bulan, karena sama-sama berkedudukan tinggi dan jelas. Sedangkan orang-orang yang dibawahnya disamakan dengan bintang karena jauh dan sama-sama jauh. Kata “شمس” dan “بدر” keduanya termasuk isim jamid (bukan isim sifat). Penggunaan isim jamid dalam sebuah ungkapan majaz dinamakan majaz isti’arah ashliyyah.

B.     Isti’arah Taba’iyyah
أوحرفا  مشتقا اسما أو فعلا فيهاالمستعار كان ما
Isti’arah taba’iyyah yaitu majaz yang musta’ar-nya fi’il, isim musytaq, atau huruf”.[4]

                                i.            Contoh taba’iyyah dengan fi’il
الدّهر عضّنا
“Zaman telah menggigitku dengan taringnya”.[5]

Arti “عضّ” yang mempunyai makna asal yaitu ‘menggigit’, sedang yang dimaksud adalah ‘menyakiti’. Ungkapan ini namanya isti’arah taba’iyyah karena musta’ar-nya berbentuk fi’il.

                              ii.            Contoh taba’iyyah dengan isim musytaq
بأحزني ناطقة حالي
“Keadaanku mengucapkan kesedihanku”.[6]

Yang dimaksud ‘mengucapakan’ ialah menunjukkan. Disebut isti’arah taba’iyyah karena ada pada isim musytaq.

                            iii.            Contoh taba’iyyah dengan huruf
النّخل جذوع في لأصلّبنّكم
“Sungguh aku  akan menyalibmu didalam cabang pohon kurma”.[7]
Makna dari kata “في” adalah diatas. Isti’arah ini dinamakan taba’iyyah karena lafazh yang menjadi majaz-nya adalah adanya huruf/ harf.












BAB III
KESIMPULAN


Majaz Isti’arah ditinjau dari segi lafazh yang menjadi musta’ar-nya terbagi menjadi dua yaitu isti’arah ashliyyah dan isti’arah taba’iyyah. Isti’arah ashliyyah yaitu jenis majaz yang lafazh musta’ar-nya berupa isim jamid bukan isim musytaq (bukan isim sifat), sedangkan isti’arah taba’iyyah yaitu majaz yang musta’ar-nya berupa fi’il, isim musytaq, atau huruf.















Daftar Pustaka

            Zaenuddin, Mamat & Nurbayan, yayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: Relika Aditama
            Al-Jarim, Ali & Usman, Musthafa. 2006. Terjemahan Balaghatul Wadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensindo
            Muhsin, Wahab & Wahab, T. Fuad. 1986. Pokok- pokok Ilmu Balaghah. Bandung:




[1] Mamat Zaenuddin & Yayat Nurbayan. Pengantar Ilmu Balaghah. (Bandung: 2007), hal:33
[2] Wahab Muhsin & T. Fuad Wahab. Pokok-pokok Ilmu Balaghah. (Bandung: 1986), hal:48-49
[3] Ali al-Jarim & Musthafa Usman. Terjemahan al-Balaghatul Wadhihah. (Bandung: 2006), hal:109
[4] Wahab Muhsin & T. Fuad Wahab. Pokok-pokok Ilmu Balaghah. (Bandung: 1986), hal:53
[5] Mamat Zaenuddin & Yayan Nurbayan. Pengantar Ilmu Balaghah. (Bandung: 2007), hal:36
[6] Ibid hal 36
[7] Ibid hal 36

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites